Akhlil Fikri Idham | Jurnalis yang suka ngopi, ngobrol ngalor-ngidul, dan mengamati hal-hal kecil yang sering dianggap sepele.
Ada orang yang ketika dilantik menjadi anggota DPRD disambut tepuk tangan.
Ada juga yang ingin pelantikannya berlangsung khidmat, sakral, penuh wibawa dan tentu saja tepat waktu.
Tapi di Lingga, Kepulauan Riau rupanya ada satu pihak lain yang juga harus diajak kompromi namanya listrik.
Rabu, 16 September 2026, Rony Kurniawan, S.IP resmi dilantik sebagai anggota DPRD Lingga melalui mekanisme Pengganti Antar Waktu atau PAW untuk sisa masa jabatan 2024-2029.
Ia menggantikan almarhum Capt. Ahmad Pajar, S.Pd., M.Mar yang meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.
Al-Fatihah untuk almarhum.
Pelantikan digelar di Gedung DPRD Lingga, Daik. Pelantikan seharusnya dimulai pukul 10.00 WIB.
Seharusnya.
Sebab hari itu listrik padam.
Bukan lima atau sepuluh menit. Menurut cerita Rony Kurniawan saat kami ngobrol sehari setelah pelantikan, listrik padam hampir tiga jam, katanya sekitar pukul 11.00 hingga 13.30 WIB.
Untungnya, prosesi tetap berjalan lancar. Dan pria yang juga akrab disapa orang-orang dengan Iwan Munir ini mengaku terharu meski pelantikannya molor dari jadwal.
Menurut dia meski molor dan listrik padam, yang hadir pada pelantikannya itu tidak satupun mundur meninggalkan momen sakral itu.
Hadir lengkap, cerita Rony Kurniawan, mulai dari Ketua DPRD Lingga, Maya Sari, Bupati Lingga, Muhammad Nizar, Wakil Bupati Lingga, Novrizal, anggota DPRD dan para undangan.
Jadi kalau ada yang kurang hari itu, mungkin cuma satu.
Listrik.
Kamis, 17 September 2026, sehari setelah pelantikan, saya sedang ngopi sambil mengetik berita di kedai kopi langganan KKM bersama Toni dan Paino, wartawan TVRI.
Tiba-tiba Paino berteriak.
“Pak Dewan,!”
Rony Kurniawan sedang melintas mengendarai sepeda motor, noleh, berbelok dan mampir.
Kami mengucapkan selamat atas pelantikannya. Obrolan pun mengalir santai, sebelum akhirnya adzan zuhur mengakhiri pertemuan.
Tidak banyak yang kami bicarakan. Paling soal pelantikan dan sedikit cerita tentang listrik yang mati hampir tiga jam.
Saya kemudian bertanya, “Abang masuk komisi mana?”
“Komisi II,” jawabnya.
Pendek saja. Mungkin karena kami sedang ngopi, bukan rapat paripurna.
Rony Kurniawan, dari sepengatahuan saya punya beberapa panggilan. Ada yang memanggil Iwan Munir, Keleng, atau Rony.
Kalau saya, lebih enak kayaknya memanggil beliau Bang RK.
RK bisa Rony Kurniawan, bisa juga Rony Keleng. Yang terakhir ini bercanda sedikit saja Bang (jangan marah, becanda).
Saya sebenarnya sudah lama mengenalnya, meski tidak dekat. Saya mengenalnya karena ia politisi Partai Golkar dan pernah duduk di DPRD Lingga.
Pada Pileg 2024, Bang RK ikut bertarung memperebutkan kursi DPRD Lingga.
Tapi gagal.
Kalah suara.
Politik memang kadang sesederhana itu. Sudah ikut bertanding, kursinya malah menjadi milik orang lain.
Namun dua tahun kemudian, kursi itu datang lewat pintu yang berbeda.
PAW.
Begitulah politik. Kadang kita mengejar kursi, kadang kursi datang mencari.
Saya mulai lebih sering berkomunikasi dengan Bang RK ketika Pilkada lalu. Saat itu ia menjadi jurkam pasangan Nizar-Novrizal.
Karena dia jurkam dan saya wartawan, kami beberapa kali ngobrol.
Awalnya saya kira dia songong dan sombong.
Ternyata saya salah.
Bang RK sebenarnya humble. Cuma gaya bicaranya memang begitu. Orang yang sudah lama mengenalnya pasti tahu.
Ada pula cerita dari orang-orang yang sudah lama mengenalnya bahwa Bang RK itu pelokek alias pelit.
Saya tidak tahu soal itu.
Menurut saya, pelit atau tidak pelit memang tergantung perspektif. Tidak mentraktir kopi belum tentu pelit. Bisa saja sedang menjaga kesehatan dompet.
Jadi untuk urusan itu, saya serahkan saja kepada orang-orang yang lebih lama mengenalnya.
Yang jelas, sekarang Bang RK sudah resmi duduk di DPRD Lingga dan katanya menempati Komisi II.
Barangkali memang begitu politik di daerah.
Hari ini dilantik di gedung DPRD.
Besoknya ngopi bareng wartawan. Dan mungkin besoknya lagi duduk bersama tukang becak, lusanya ngobrol dengan buruh angkut.
Dan pada kesempatan lain mungkin duduk bersama bos-bos besar.
Sebab setelah seseorang mendapatkan kursi, tantangan sebenarnya bukan lagi duduk sama siapa dan bagaimana mendapatkan kursi.
Kursinya sudah dapat.
Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah duduk di atasnya.
Kursi DPRD itu bukan kursi ruang tamu, atau kursi plastik kedai kopi.
Ia bukan tempat untuk sekadar duduk, bersandar, lalu menunggu waktu gajian dan pulang.
Di sana ada aspirasi yang harus dibawa. Ada persoalan masyarakat yang harus didengar. Ada kebijakan yang harus diawasi.
Dan ada kepentingan publik yang seharusnya tidak boleh ikut padam hanya karena listrik sedang mati.
Ironisnya, pelantikan Bang RK sendiri berlangsung ketika listrik sedang tidak menyala.
Barangkali itu bisa menjadi semacam metafora kecil untuk memulai masa tugasnya.
Kursinya sudah menyala.
Tinggal bagaimana memastikan manfaatnya juga ikut menyala.
Sebab masyarakat tidak terlalu membutuhkan wakil rakyat yang sekadar hadir ketika listrik menyala.
Mereka membutuhkan wakil rakyat yang tetap bekerja ketika keadaan sedang gelap.
Dan kalau boleh berharap sedikit, semoga setelah ini persoalan listrik di Lingga yang sering mati-hidup juga mendapat perhatian.
Karena listrik boleh padam. Lampu gedung boleh mati. Pelantikan boleh molor.
Tapi pelayanan kepada masyarakat jangan sampai ikut-ikutan.
Selamat datang kembali di DPRD, Bang RK.
Kursinya sudah tersedia.
Sekarang, mari kita lihat apakah kursi itu benar-benar bisa menyala.
Disclaimer: Tulisan ini merupakan curhatan penulis, bisa fiksi ataupun kisah nyata. Kirim Tulisan: Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? Kutipan membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik! WhatsApp: 0811-7776-644 Email: kutipan.co@gmail.com
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.