Dua Kilometer Demi Pendidikan, Anak-anak Air Mali Menanti Perhatian Pemerintah – Kutipan
KUTIPAN – Keterbatasan angkutan pelajar membuat anak-anak di Desa Air Mali, Kecamatan Bunguran Utara, Kabupaten Natuna, harus berjuang menempuh perjalanan menuju sekolah. Setiap hari, sebagian dari mereka terpaksa berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer karena tidak memiliki kendaraan untuk pergi dan pulang sekolah.
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, anak-anak tersebut terkadang memanfaatkan kendaraan Tosa yang kebetulan melintas untuk menumpang, terutama saat pulang sekolah. Namun, jika tidak ada kendaraan yang lewat, mereka harus kembali mengandalkan kedua kaki untuk sampai ke rumah.
Kondisi ini menjadi perhatian warga setempat. Mereka berharap pemerintah daerah dapat kembali menyediakan angkutan pelajar, sehingga anak-anak di wilayah tersebut tidak lagi harus berjalan kaki cukup jauh setiap hari.
Dang (36), warga Desa Air Mali, mengatakan, jarak rumah anak-anak dengan sekolah sekitar dua kilometer. Sebagian pelajar tidak memiliki kendaraan pribadi karena kondisi ekonomi keluarga yang terbatas.
“Jarak rumah kami dengan sekolah anak-anak sekitar dua kilometer. Setiap hari mereka berjalan kaki menuju sekolah karena beberapa anak tidak memiliki kendaraan. Keluarga mereka juga kurang mampu,” ujar Dang. Rabu, (14/10).
Ia menuturkan, anak-anak kerap menumpang kendaraan Tosa yang melintas apabila kebetulan bertemu di jalan. Kehadiran kendaraan tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengurangi perjalanan dengan berjalan kaki.
“Kadang-kadang kalau ada Tosa lewat, anak-anak ini menumpang untuk pulang sekolah. Mereka senang kalau bisa pulang bersama-sama naik Tosa,” tuturnya.
Menurut Dang, kondisi tersebut terjadi karena saat ini tidak ada lagi angkutan pelajar seperti yang pernah disediakan pemerintah daerah pada masa lalu.
Ia mengenang, ketika Kabupaten Natuna dipimpin Bupati Daeng Rusnadi, pemerintah daerah pernah menyediakan kendaraan Tosa untuk membantu transportasi anak-anak sekolah.
“Dulu memang ada transportasi untuk anak-anak sekolah dari pemerintah daerah, berupa Tosa. Itu sejak zaman Bupati Daeng Rusnadi. Namun, setelah berganti bupati, angkutan seperti itu tidak ada lagi,” ungkapnya.
Dang berharap pemerintah Kabupaten Natuna dapat kembali memperhatikan kebutuhan transportasi pelajar, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tinggal di wilayah pedesaan.
Bagi anak-anak di Desa Air Mali, menumpang Tosa yang melintas terkadang menjadi solusi sementara untuk sampai ke rumah. Namun, tidak setiap saat kendaraan tersebut tersedia, sehingga berjalan kaki masih menjadi pilihan yang harus mereka jalani.
Kondisi ini menjadi gambaran tantangan akses pendidikan yang masih dirasakan sebagian masyarakat di wilayah pedesaan. Selain fasilitas pendidikan, ketersediaan transportasi yang memadai juga menjadi kebutuhan penting agar anak-anak dapat bersekolah dengan lebih mudah.
Masyarakat pun berharap pemerintah daerah dapat meninjau kembali kebutuhan angkutan pelajar di Desa Air Mali. Dengan adanya perhatian tersebut, anak-anak diharapkan tidak lagi harus berjalan kaki sejauh dua kilometer setiap hari hanya karena keterbatasan kendaraan.



