SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Persaingan motor listrik di Indonesia semakin ketat. Hampir setiap produsen berlomba menawarkan spesifikasi unggulan, terutama soal jarak tempuh atau range yang diklaim mampu menempuh lebih dari 100 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Namun, pegiat otomotif sekaligus pengelola KDW Motoblog, Dadang Darmawan, menilai masih banyak konsumen yang hanya terpaku pada angka di brosur tanpa melihat kemampuan motor saat digunakan dalam kondisi nyata.
Menurut Dadang, salah satu motor listrik yang dinilai memiliki klaim jarak tempuh realistis adalah TVS iQube S. Ia menyebut motor listrik asal India tersebut justru jarang masuk dalam daftar rekomendasi motor listrik berjarak tempuh di atas 100 kilometer yang dibuat sejumlah media.
“TVS iQube S memiliki klaim jarak tempuh berdasarkan metode Indian Driving Cycle (IDC) hingga 145 kilometer. Sementara untuk penggunaan harian atau real-world range, TVS mengklaim sekitar 115 kilometer, dan menurut saya angka itu lebih realistis,” ujar Dadang.
Ia mengaku pernah melakukan pengujian terhadap TVS iQube generasi sebelumnya dengan rute Subang-Jakarta. Dari hasil pengujian tersebut, motor masih mampu menempuh sekitar 125 kilometer dengan sisa daya baterai sekitar lima persen.
Dadang menilai banyak media otomotif masih mengandalkan data spesifikasi yang tercantum dalam brosur pabrikan tanpa membandingkannya dengan hasil penggunaan di lapangan.
“Kadang ada motor yang mengklaim bisa menempuh lebih dari 120 kilometer, tetapi ketika dipakai dalam kondisi sebenarnya hasilnya jauh berbeda. Karena itu, konsumen perlu melihat hasil uji nyata, bukan hanya angka promosi,” katanya.
Menurutnya, minimnya eksposur TVS iQube S juga dipengaruhi strategi pemasaran TVS Motor Indonesia yang hingga kini belum secara masif memasarkan lini motor listriknya.
“TVS masih lebih fokus pada produk motor bensin mereka. iQube memang sering dipamerkan di berbagai ajang otomotif, tetapi belum dipasarkan secara agresif sehingga belum banyak dikenal masyarakat,” jelasnya.
Meski demikian, Dadang menilai TVS iQube S layak dipertimbangkan bagi konsumen yang mengutamakan konsistensi jarak tempuh dibanding sekadar klaim di atas kertas.
“Yang paling penting bagi pengguna adalah motor mampu memberikan jarak tempuh sesuai kebutuhan sehari-hari. Klaim yang realistis justru akan membuat konsumen lebih percaya,” pungkasnya.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.